Sabtu, 12 November 2011

Aadakah isteri harus tunduk pada suami

Awal pembahasan bermula dari sisi pernan dan tanggung jawab seorang sumi, dan apa tanggung jawab seorang isteri. tanggung jawab di sini bukan hanya terhenti sebatas hubungan antar manusia saja tapi meliputi tanggung jawab dengan Allah dan hari akhirat. Definisi daripada tanggung jawab itu sendiri menitik beratkan kepda seseorang untuk melakukan suatu perbuatan baik secara terpaksa atau dengan senang hati. Namun yang jelasnya perkara itu mesti dilakukan.


Laki-laki tercipta dengan menanggung kewajiban-kewajiban yang lebih berat tanggung jawabnya ketimbang perempuan. Perkara ini kita soroti bukan dari peranannya dalam suatu masyarakat saja tapi segi tanggung jawapnya dengan Allah. Diantara tanggung jawab laki-laki tersebut ialah:
1.      Laki-laki diwajibkan berjihad dan berperang di jalan Allah sementara perempuan tidak.
2.      Laki-laki wajib dalam memberi nafkah sementara perempuan tidak.
3.      Laki-laki bertanggung jawap pada isterinya baik dan buruk akan Allah perhitungkan.
4.      Laki-laki diberi kekutan melebihi dari perempuan.
5.      Laki-laki diberi kelebihan dari segi rasional

Adapun perempuan memiliki peranan sebagi berikut:
1.      Perempuan mengandung sementara lelaki tidak
2.      Perempuan memiliki ketelitian dan keuletan.
3.      Perempuan memiliki kewajiban untuk menyapi bayinya.
4.      Perempuan memiliki tugas yang cukup penting dalam mengurus suami dan anak-anak.
5.      Perempuan memiliki kelebihan dari segi emosional­ (perasaan).

Melalui agama Islam ini Allah telah mengangkatkan kaum perempuan ke derajat yang terhormat dan mulia serta hak-hak perempuan itu dipelihara dalam hukum syariat Islam. Pada zaman jahilia dulu perempuan dipandang hina dina lebih berharaga onta betina yang gemuk daripada seorang perempuan. yang mana ketika itu, perempuan boleh dibuat sesuka hati. Seorang isteri boleh diwarisi kepda anaknya jika ayahnya telah meninggal, seorang isteri boleh ditiduri oleh sahabatnya. Seorang isteri boleh dikawini kapan saja dan boleh dicerai semaunya, tidak ada batas Thalaq. Sehingga nasib perempuan ketika itu benar-benar menyedihkan. Lewat perantaraan Rasulullah s.a.w maka derajat perempuan itu diangkat setinggi-tingginya melaluai ketetapan al-Quraan dan Sunnah Nabi Muhammad s.a.w. sampai hari kiamat.

Melalui syariat Islam pula mewajibkan kepada setiap muslimah untuk menutupi aurat, tidak bergaul bebas dengan laki-laki, menjaga akhlak yang baik, menjaga kehormatan suami, amanah dalam menjalankan kepercayaan suami dan menjaga batas-batas pergaulan. Tujuan dari ketetapan syarita ini untuk memuliahkan perempuan itu sendiri dan melatkkannya di temapt yang terhormat dalam tatanan masyarakat dan agama tapi sedikit sekali yang menyadarinya. Kemudian kepada kaum lelaki Rasulullah sangat perihatin dengan umat ini sehingga sampi-sampai detik-detik terkhir kehidupan beliu, beliau masih sempat berpesan dalam haji wada’nya.

“hati-hatilah dengan perempuan”. Berdasarkan penafsiran hadist ini maka diharapkan kaum lelaki waspada terhadap perempuan, jangan menganiayanya, jangan menyakitinya, jangan menyia-nyiakannya, jangan pula berlaku zalim ke atasnya dan didiklah ia ke jalan yang benar agar tidak mengalami kehancuran akhlak dan moral. Karna awal fitnah dan bencana yang menimpa bani Isralil berawal dari perempuan.
Kemudian dilain sabda beliau berucap:

 “hanya orang-orang yang mulialah yang akan memuliakan perempuan, dan orang-orang yang terhina akan tega menghinakannya”. (dalam fiqh as-Sunnah).

Jadi sudah jelas bahwa al-Quraan dan Sunnah memerintahkan kepada setiap lelaki muslim untuk memuliakan kaum perempuan atau isterinya. Serta memenuhi tugas dan tanggung jawap sesuai kemampaun suami tersebut baik dari makanan pakaian dan kenyamanan-kenyaman yang lainnya.
Perempuan itu Allah jadikan dari tulang rusuk kiri sebelah bawah yang bengkok. Dalam hal ini Rasulullah menjelaskan, perempuan itu dijadikan dari tulang  rusuk sebalah kiri bagian bawah yang bengkok. Laki-laki disuruh untuk meluruskannya, dengan berhati-hati jangan sampai patah atau ia mau membiarkannya dalam kebengkokan itu. (syarh al-Hadist riwayat Muslim, Tirmizi, Abu Daud).
Peranan suami. Laki-laki disuruh berbuat baik kepada isteri untuk membimbing dan mengayominya dengan megharap ridho Allah, dengan sabar dan berhati-hati. Dan ini adalah tanggung jawap diantara sekian banyak tanggung jawap seorang laki-laki. Tanggung jawap seorang suami tersebut baik dan buruknya, karna dihalalkan isterinya dengan kalimah Allah (perkawinan).

Peranan isteri. Seorang isteri yang mentaati suaminya bukan hanya semata-mata karna tunduk dan takut pada suami atau merendah diri dihadapannya. Tidak. Seorang isteri yang mentaati suaminya karna mengharap ridho Allah dan juga ridho suaminya akan mendapat tempat yang muliah di sisi Allah dan memang itulah yang ditetapkan  oleh hukum syariat. Jika perempuan itu mendurhakai suaminya maka ia telah mendurhakai Allah dan RasulNya. Dan pendurhaka semacam ini akan dibenamkan dalam api neraka. Alangkah ruginya.
Kemudian dipertnyakan suami yang bagaimana yang mesti ditaati itu.
Menurut syariat Islam, suami yang wajib ditaati dan dihormati ialah suami yang tidak melampaui batas, suami yang memerintahkan dan membimbing kepada kebaikan. Selagi suami itu menyerukan kepada mentaati Allah dan RasulNya, dan dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami baik dengan sempurnah atau kurang maka wajib isteri tersebut untuk mentaatinya dan patuh serta tidak melampau batas pada suami. Baik dari perkataan, perbuata dan lain sebagainya.

Permasalahan yang sering timbul saat ini berpunca dari penyimpangan-penyimpangan garis syariat dalam tatanan masyarakat dari yang telah ditentukan. Sehingga banyak menimbulkan problem rumah tangga yang akhirnya membawa ke ambang kehancuran dan penceraian. Salah satu buktinya ialah: perempuan sekarang banyak menggantikan peranan laki-laki baik dari aspek pekerjaan dan tanggung jawab lainnya sementara ia melupakan tanggung jawap yang sebenarnya. Contoh, perempuan yang bekerja pergi pagi dan pulang larut malam, kepentingan suami dan keperluan anak-anak diabaikan. Padahal kalau melihat dari tanggung jawab, kepentingan suami dan keperluan anak-anak itu wajib untuk dipenuhi oleh seorang isteri, dan pekerjaan di luar itu adalah harus. Bekerja, perkara ini tidak dilarang. Yang dilarang itu ketika peranan wajib perempuan itu tidak di titik beratkan dan suah hilang sementara ia lebih mementingkan yang lainya yang samasekali tidak diwajibkan ke atasnya.

Kemudian ada yang berasalan masalah ekonomi, membantu suami, menutupi keperluan hidup. Perbuatan ini sah-sah saja. Islam tidak melarang isteri yang bekerja bahkan itu lebih baik ia telah mendapat dua pahala sekaligus. Pertama pahala sebgai seorang isteri yang mentaati suami dan kedua paha ia membantu suami dalam kebaikan. Tapi dengan syarat isteri tersebut tidak mengabaikan tanggung jawapnya dan kewajibannya sebagai seorang isteri. Namun fakta berbicara saat ini, sedikit sekali isteri yang mampu menyelesaikan dua tanggung jawab tersebut seara serentak. Apabila ia telah lelah dengan urusan pekerjaan kantor disibukkan dengan masalah-masalah kerjaannya akhirnya datang perasaan malas untuk memenuhi keperluan anak-anak dan suami. Sehingga suami dan anak-anak hampa dari sentuhan kasih sayang, urusan rumah tangga diserah kepada pembantu, isteri selalu sibuk dan selalu tidak punya waktu untuk keluarga.

Kemudian suami pula sering tidak tahu diri. Isteri dibiarkan mencari nafkah ke sana ke mari sementara ia duduk-duduk di warung kopi. Suami yang tidak ada perasaan tanggung jawab kepada anak-anak dan isteri meyebabkan ia terlantar dan dibiarkan begitu saja. Keperluannya tidak dipenuhi sebagaimana mestinya. Kalau sumai yang tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagaimana yang diwajibkan syariaat ke atas suami tersebut. MAKA TIDAK WAJIB BAGI ISTERI UNTUK MENTAATINYA. Bahkan isteri tersbut berhak menebus Thalaq. Begitu juga sebaliknya, kewajiban suami atas isteri akan hilang apabila isteri sudah tidak malakukan sebagaiman tugas dan tanggung jawab sebagai isteri jika suaminya tidak meredhoinya.

Dalam menghadapi suami yang demikian seorang isteri itu pertama-tama diperintahkan untuk bersabar, juga terhadap suami yang tidak dapat memenuhi sebagaimana kewajiban yang diwajibkan ke atasnya, baik dari segi materi mahupun yang lainya. Sampi Allah memberikan kelapangan dan jalan keluar dari segala persoalannya. Tapi setelah perkara terebut sudah dilakukan isteri namun belum dilihat ada kesadaran dari suami, dan kian hari tidak ada perubahan dalam peranan dan tanggung jawab seorang sumi. Pada akhirnya isteri sudah tiak merasa bahagia dan tidak sabar lagi hidup bersama suami tersebut, maka hukum syariat memberi jalan keluar dari permasalahn ini kepada isteri berupa Faskh (hak thalak bagi isteri).
Kalau kita perhatikan secara jujur fenomena yang berlaku saat ini mengenai kehancuran rumah tangga berawal dari kesalahan peranan dan tanggung jawab. Islam telah menggariskan peranan dan tanggung jawab itu dengan sejelas-jelasnya. Tujuannya agar tidak terjadi benturan-benturan dalam tatanan sosial masyarakat, biar semuanya berjalan di garis yang telah ditentukan agar tercipta masyarakat, keluarga yang rukun dan damai. 

Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan masuklah Islam dengan segenap jiwa dan raga. Wallau a’lam.

Mamfaat shalat dari perspektif SAINS


Kajian demi kajian yang dilakukan mengenai shalat dari perspektif sains untuk menguak rahasia dibalikkehebatan shalat. Belum lama ini kajian dilakukan di Universiti Malaya dan sebelumnya juga pernah diadakan kajian di Arab Saudi dan Kairo namun hasil yang didapati tidak jauh berbeda bahwa shalat merupkan terapi jiwa dan penyembuh dari penyakit. Disamping mendapat pahala. Sebagaimana firman Allah:

“Bacalah serta ikutilah (wahai Muhammad) akan apa yang diwahyukan kepadamu daripada al-Quraan, dan dirikanlah sembahyang, sesungguhnya sembahyang itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”.(QS:29:45)

Tapi kenapa banyak yang melakukan shalat tidak merasakan apa-apa. Bahkan ada juga yang mengeluh dan berkata, “shalat, tidak shalat sama saja”. Begitulah perkataan seseorang yang belum merasakan manisnya iman.
Shalat yang dikehendaki Allah ialah shalat yang khusuk serta mengikut kaedah yang benar sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w bukan shalatnya seperti patukan burung gagak sementara hati mejeng kemana-mana. Menurut kajian sains yang belum lama ini, adapun mamfaat shalat ditinjau dari perspektif sains sebagai berikut:

1.      Mejaga kesehatan badan. Kajian mendapati perilaku gerak shalat itu dapat memberi efek tertentu mengenai kesehatan dan menjaga kesetabilan tubuh. Seperti suhu badan, kesetabilan peredaran darah dan denyut jantung. Berdasarkan temuan kajian yang sempurnah shalatnya dan dilakukan  5 kali sehari semalam mempunyai kadar metabolisme basal (BMR) dan jisim sel badan (BCM) jauh lebih tinggi berbanding yang tidak melakukan shalat.

2.      Pengaruh bacaan dalam shalat, kajian menemui bagi mereka yang faham makna bacaan dalam shalat serta menghayati bacaan tersebut mempunyai komposisi badan yang terbaik, darah mengalir dengan lancar ke seluruh badan terutama ke saraf otak, fikiran dan emosi jauh lebih tenang.

3.      Pengaruh lipatan jari kaki, ketika sujud dan tahiyat dapat mengurangkan jisim lemak badan (FM), tisu pada otot dapat ditingkatkan menjaga keseimbangan badan. Pengurangan lemak kolestrol badan dengan demikian kurangnya dari berbagai penyakit teruma sakit jantung dan strok.

4.      Shalat mempengaruhi denyut jantung. Kajian tes terhadap pergerakan shalat serta efeknya pada jantung. Kadar denyutan jantung direkam dengan menggunakan elektrokadiograf untuk menghasilkan elektrokardogram (ECG). Posisi berdiri kadar denyutan jantung 87-90 bpm. Ini dalah kadar yang tertinggi karna jantung memompa darah ke atas dan kebawah.  Posisi rukuk kadar denyutan jantung 79 dan 81 bpm posi jantung sejajar dengan kepela. Ketika sujud kadar denyutan jantung 72 dan 73 bpm. Denyutan jantung paling rendah didapati ketika posisi sujud.

5.      Shalat mencegah sakit pinggang. Kajian dijalankan dengan mengguna elektromiografi (EMG) tehadap pesakit pinggang wanita. Elektrod dipasang di belakang badan iaitu di lumbar L4-L5. Maka didapati hasil kajian otot pada pinggang beristirahat ketika ruku’ isyarat EMG dicatatkan pada postur 90 derjat. Ini mengisyaratkan posisi fleksi spina pda 90 derjat akan memastikan tulang belakang berada dalam keadaan baik. Ia dapat membuka ruang antara spina (spinal canal) yang akan mengurangkan resiko penghimpitan urat saraf.
6.      Kesan shalat terhadap kerja otak. Isyarat EEG diukur semasa peserta kajian sedang malukan shalat. Bahagian EEG semasa tumakninah dianalisa lebih terperinci. Dari hasil analisis dijalankan, wujud peningkatan yang nyata bagi Ketumpatan Kuasa Spektrum (KKS) pada komponen 11 Hz di lobus Parietal semasa berubah  dari posisi berdiri ke posisi sujud. Ketika shalat penyebaran spektrum untuk semua 7 elektrod berlainan dari 7 hingga 14 Hz. Ketenangan fikiran ketika tumaknina menunjukkan jalur frekuensi alpha. Frekuensi alpha ini kelihatan sangat jelas keitika sedang bersujud. Alpha dalah frekuensi terendah sistem kerja saraf dan hanya kita dapati ketika kita tidur.

7.      Shalat dapat mempengaruhi kesetabilan otot. Gerakan direkam dari takbir ihram hingga selesai shalat,  kajian aktivitas otot dilakukan permukaan elektrod EMG diletakan di atas permukaan empat jenis otot, iaitu di biseps femoris (paha belakang) rektus femoris (paha depan), gastroknemius (betis) dan L4 dan L5 (otot tulang belakang). Ereksi gelombang otot ketika mengakat tangan otot tulang belakang diaktifkan. Pada posisi ketika rukuk dan mulai bangun dari rukuk  otot belakang dan betis diaktifkan. Ketika melakukan gerkakan dari duduk, sujud dan bangkit kembali otot tulang belakang diaktifkan. Ketika sedang mebongkok dan dan melakukan sujud otot paha depan dan betis menunjukkan tiada pergerakan. Ketika postur bediri, kemudian sujud kembali berdiri semula disertai takbir serta mebongkokkan kaki sedikit semua empat otot diaktifkan, kelihatan pergerakan otot yang agak besar pada betis ketika meletakkan lutut ke lantai posisi hendak sujud.

Keputusan kajian ini menunjukkan otot gastroknemius mengalami aktifitas tertinggi.
Jadwal hasil kajian kerja otot

Pergerakan
PMKD, ยต V (min ± SP) daripada n=5
Biseps
femoris
Biseps
femoris
Gastrokne-
        minus
L 4-L5
Berdiri-sujud
Berdiri-sujud
7.91 ±  4.00
11.2 ± 3.86
13.21 ± 10.67
7.70 ±  3.30
Beridiri-rukuk
Beridiri-rukuk
8.59 ± 4.02
4.18 ± 1.88
11.97 ±  4.89
7.41 ± 2.57
Duduk-sujud
Duduk-sujud
4.81 ± 1.26
3.54 ± 2.61
8.36 ± 12.55
5.87 ± 1.87



Kesimpulan data diatas menunjukkan pergerakan shalat terhadap otot:
1.      Mengurangkan kekejangan otot
2.      Mencegah kecederaan pada otot
3.      Meningkatkan pergerkkan sendi
4.      Memantapkan koordinasi otot
5.      Meningkatkan peredaran darah
6.      Meningkatkan prestasi tubuh badan.

Argumen Imam Abdul Qayyim al-Jauziah mengenai Talqin ke atas mayit


Banyak ulama atau aliran menafikan adanya perintah mentalqinkan si mati. Merujuk kepada pandangan imam besar Abdul Qayyib al-Jauziah, sebagaimana dituliskan beliau dalam bukunya (Ar-Ruh):
Dan yang menunjukkan hal ini, iaitu apa yang dibuat orang ramai dahulu dan sekarang dengan membaca talqin kepada si mati di atas kuburnya semua itu tentulah si mati itu mendengar dan mendapatkan mamfaat darinya. Kalau tidak tentulah semua itu tidak ada gunanya. Imam Ahmad rahimaullah pernah ditanya tentang masalah ini, dan ia telah menggap perbuatan itu adalah baik, karena ia telah diamal orang-orang banyak.

Ada sebuah Hadist dha’if  yang disebutkan oleh Thabarani di dalam kitab mu’jamnya dari Abu Umamah ia berkata: telah bersabda Rasululullah S.A.W apabila mati salah seorang kamu, dan telah diratakan tanah kuburnya, maka hendaklah salah seorang kamu berdiri di atasnya seraya berkata: wahai fulan anak si fulana! Nanti si mayit itu akan mendengar, tapi tidak boleh menjawab. Kemudian hendaklah ia berkata lagi wahai fulan binti pulana! Nati ia akan bangun dan duduk. Kemudian hendaklah meneriak lagi: wahai fulan binti fulana!  Kini si mayit itu akan berkata: tunjukilah aku, semoga Allah merahmatimu! Akan tetapi  kamu sekalian tidak dapat mendengarnya. Kemudain hendaklah dikatakan pula: ingatlah sesuatu yang karenanya kau telah keluar dari dunia ini, iaitu syahdat Laa Ilaaha Illalahh, dan bahuasanya Muhammad itu sebagai Rasul Allah, dan bahuasanya engakau telah meridhai Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi dan Al-Quraan sebagai pimpinan! Kelak munkar dan Nakir akan berundur dari situ, yang satu berucap kepada temannya: mari kita pergi dari sini, dan tak perlu kita berada di sini, karna orang ini telah diberi tahu hujjah-hujjahnya, dan Allah dan Rasulnya akan menjadi pendindingnya.
Kemudian sahabat bertanya kepada Rasulullah: wahai rasulullah kalau kita tidak tahu nama ibunya si mati? Rasululullah bersabda: seruhlah orang itu dengan dinisbatkan bintinya kepada Hawwa.

Walaupun Hadist ini tidak sabit sahihnya, namun perbuatan ramai orang mentalqinkan si mati itu telah tersebar di mana-mana tanpa diingkari lagi,  dan itu sudah cukup  untuk diamalkan. Begitu juga Allah belum pernah mentaqdirkan suatu adat  ke atas suatu umat di merata timur dan barat sedangkan umat itu telah sempurna akalnya dan banyak pula pengetahuannya untuk mentatbikkan pembicaraan kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar atau mengerti, padahal umat itu telah menganggapnya baik, tiada diingkari oleh siapapun, bahkan ia merupakan suatu tradisi orang-orang terdahulu untuk diikuti orang terkemudian.

Kalaulah orang yang ditunjukkan pembicaraan itu tidak dapat mendengar, niscayalah ia sama berbicara kepada tanah, kayu dan batu, ataupun kepada sesuatu yang tidak ada. Hal ini meskipun dianggap baik oleh sesetengah golongan namun ada juga sesetengah ulama yang memandangnya buruk dan tidak berasas.
Abu Daud telah meriwayatkan suatu Hadist di dalam Sunannya dengan sanad yang boleh dipakai, iaitu Nabi pernah menghadiri jenazah. Apabila mayit itu selesai dikubur Rasullah S.A.W bersabda: Doakan bagi saudaramu ini supaya teguh, karna dia sekarang ini sedang disoal.
Nabi S.A.W telah memberi tahu kita, bahua si mayit itu sedang disoal, maka sudah tentulah  dia dapat mendengar soalan itu.
Ada suatu riwayat yang sahih daripada Nabi S.A.W bahua si mayit itu mendengar tapak kaki orang-orang yang menghantarkan jenazahnya, tatkala mereka mulai beredar untuk pulang.

Kesimpulan
Meskipun perbuatan mentalqin mayit seperti yang dilakukan tidak diajar secara langsung oleh Nabi S.A.W sebagaimana beliau mengajarkan kita Shalat namun perbuatan ini memandang ada mamfaatnya dan kebaikan-kebaikan karna sesungguhnya agama Islam itu benar sesuatu yang benar (mutlak) tidak ada yang bertentangangan denga Islam, bahkan perbuatan jahhiliah pun yang benar setelah kedatangan Islam dibenarkan. Jadi siapa yang melakukannya tidak salah. Apalagi kalau kita terjemah makna Hadist-hadis Rasululullah S.A.W yang menyentuh mengenai talqin ini secara luas maka kita akan menemui suatu perintah langsung dan yang tidak langsung tentang mentalqin si mati ini. Secara langsung Nabi menyuruh orang yang sedang sakaratul maut untuk diajarkan kalimat tauhid. Secara tidak langsung lihat keterangan Abu Daud di atas, namun cara ini dilakukan dengan cara yang telah dikonsepkan oleh para ulama yang memahami benar permasalahan ini sehingga kta dapati ia telah tertulis dan tersusun.
Begitu juga mengenai hukum mentahlil si mati, perintah secara langsung tidak ada tapi di dalam riwayat Imam Muslim dala Shihnya bahua rasulullah menyuruh orang yang hidup (ahli warisnya) untuk bersedekah dan berbuat amalan yang di niatkan pahalanya untuk si mati karna ini dapat membantu kesulitan-kesulitan si mati tersebut. Seperti yang kita lihat sekarang ini bentuk amalan ini telah dikonsepkan kelihatanannya berbeda namun tujuannya sama, bagi  orang yang sempit dan picik pengetahuannya tentang Islam jadi tertanya-tanya tentang perbuatan ini. Padahal kalau kita fahami dari Hadist-hadis Rasulullah s.a. w begitu banyak dalil-dalil yang menyeruh kepda perbuatan demikian.
Kemudaian ada pula yang bertaya kepada saya kenapa si mati itu harus dibacakan Yaasin padahal tidak semestinya Yaasin surah-surah lainpun sama?.
Maka saya katakana saudara sudah belajar tinggi tentang pengetahuan agama, tidak tahu itu biasa karna manusia tidak lah mengetahui semunya akan tetapi tidak wajar jika saudara memaksakan orang lain untuk mengikut pendapat anda yang tidak tahu itu, sehingga anda menyalahi orang mengamalkan perubatan tersebut. Menganggap anda benar dan orang lain salah. Coba analisa lebih jauh lagi.
Di dalam Hadist ‘An-Nasa’I diriwatkan dari Ma’kil bin Yasar al-Muzani, yang meriwayatkan dari Nabi s.a.w bahwa beliau bersabda
Iqrouu Yaasin inda mautikum (bacalah Yaasin kepada orang mati kamu)
Kemudian Hadist menceritakan hal yang sama akan kita jumpai juga di dalam Sunan At-Turmuzi.
Wallau ‘alam

Nama-nama istilah aliran filsafat



Pengeritan Aliran filsafat: Epistemologi, Empirisme, Rasionalisme, Positivisme, Intuisionisme, Iluminasionisme, Logika, esensi, Aksidensi, Abstraksi.

Epistemologi, membicarakan anatara lain hakikat pengetahuan, iaitu apakah apakah pengetahuan itu sesungguhnya. Juga membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Tatkala manusia lahir ia tidak memiliki ilmu pengetahuan sedikitpun ketika sudah dewasa memiliki pengetahuan banyak sekali. Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan  bahua epistemomologi is the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge.
 
Empirisme, kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari kata empeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuannya melalui pengalamannya. Bila dirujuk kemabali kepada kata asalnya, pegalaman yang dimaksuda ialah pengalaman inderawi.  Manusia tahu gula manis karna ia pernah merasakannya. Menurut aliran ini pertama-tama manusaia itu kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lalu ia memiliki pengetahuan, sesuatu yang tiak dapat diamati dengan panca indera bukan dinamakan pengetahuan jadi aliran ini menyatkan pengelaman indera itulah sumber pengetahuan yang sebenar.

Rasionalisme, aliran ini menyatkan bahua akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Manusia, menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui  kegiatan akal mengakap objek. Tokoh alira ini Rene Descartes. Aliran Rasionalisme tidak mengingkari peranan indera dalam memperoleh pengetahuan tetapi ia haya sebatas perangsang akal dan memberikan bahan-bahan  yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampai kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas, kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi akal bekerja karna ada bahan idera, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan tanpa bahan inderawi.

Positivisme, tokoh aliran ini August Compete (1798-1857) aliran ini menyatakan bahwa indera itu amat penting dalam pemperoleh pengetahuan, akan tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera dapat dikoreksi melalui eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas dan sistematik. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat dengan kiloan dan sebagainya. Jadi pada dasarnya aliran positivism bukanlah aliran yang khas berdiri sendiri ia hanya menyempurnakan aliran empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama.

Intuisionisme, Hendri Bergson adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akalpun terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah, jadi menrut aliran ini pengetahuan kita tentanya juga tidak pernah tetap. Akal juga terbatas, akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek tersebut, jadi dalam hal ini manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak juga dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek, akal hanya mampu memahami bahagian tertentu pada objek kemudian bahagian-bahagian itu digabungkan oleh akal, sehingga terbentuk pengetahuan yang utuh.

Iluminasionisme, aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh agma di dalam Islam disebut teori Ksyf, teori ini menyatkan bahua manusia yang hatinya telah bersih, telah “siap”, sanggup menerima pengetahuan tuhan. Kemampuan menerima pengetahuan secara langsung itu dengan cara latihan, dalam Islam disebut suluk. Secara umumnya teori ini lebih banyak diajarkan dalam tashawwuf.

Logika,  salah satu cabang filsafat yang telah dikembangkan Aristotel. Logika membicarakan norma-norma berpikir benar agar diperolehi dan terbentuk pengetahuan yang benar. Ada dua macam bentuk logika iaitu formal dan material.
1.      Logika formal,  yang bisa disebut dengan nama logika saja, ialah logika yang memberikan norma berpikir benar dari segi bentuk (form)  berpikir.  Logika formal merupakan logika bentuk. Dalam logika dikenal perbedaan antara kesimpulan yang tepat  dan kesimpulan yang benar. Kesimpulan yang tepat diperolehi  bila bentuk  berpikirnya benar (material form).
2.      Logika material,  yang meneliti isi kesimpulan itu benar atau salah maka ia disesuaikan isi kesimpulan itu disesuaikan dengan objeknya.

Esensi, ciri yang menunjukkan bahua ia adalah ia sendiri, cirri yang menunjukkan ke-“adaan”-nya suatu zat. Ia boleh dikatakan juga ciri yang tidak boleh tidak  

ada pada objek itu, bila ensensi hilang maka benda itu bukan menunjukkan benda itu lagi.
Aksidensi, ciri pelengkap pada zat yang lebih mengkhususkan objek itu dari objek-objek lain sehingga ia dapat dibedakan.

Abstraksi, ialah sesuatu yang tidak wujud dan tidak dapat dibuktikan melalu penginderaan tetapi ia dapat di yakini adanya hanya melalui mata batin. Contohnya kita membuat gambaran dalam jiwa kita tentang bentuk sesorang.

Minggu, 06 November 2011

Seruan kepada sabar


Pengobat hati ketika musibah
Ketika musibah datang menimpa hendaklah seseorang hamba itu menyadari, siapakah dirinya?. Ia adalah seorang hamba yang tiada memiliki daya sediktipun. Ia berasal dari air yang hina dan lemah. Oleh karena itu hendaklah hamba tersebut cepat-cepat mengembalikannya kepada Allah. Jangan menyesali ini dan itu lagi karena semuanya sudah terjadi. Adapun kalimah yang diucapkan ketika tertimpah musibah seperti yang diajarkan Allah di dalam Al-Quraan “Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun” ( sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya lah semunya kembali). Dengan demikian Insya Allah akan digantikan dengan yang lebih baik atas sesuatu yang hilang tersebut sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. Barang siapa yang membaca kalimat istirja’ ketika tertimpah musibah ia akan memperolehi rahmat dan belas kasih Tuhannya. Mendapat ganti yang lebih baik, boleh jadi Allah menjadikan musibah tersebut untuk mengangkat derajat seseorang itu di sisiNya. Oleh karena itu bagi mereka yang mengetahui besarnya pahala bersabar ketika musibah, maka hamba tersebut justeru merasa gembira dengan adanya bencana yang menimpah dirinya. Lantaran mengingat balasan pahala yang amat besar.

Hamba yang memiliki kualitas Iman yang tinggi senantiasa berhati ikhlas, sabar dan bertawakal kepada Allah dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidupnya. Tidak cepat mengeluh apalagi berputus asa atas rahmat Tuhannya. Musibah atau bencana yang menimpa seseorang itu terkadang merupakan obat. Obat hati supaya hamba tersebut tidak sombong, ego, merasa paling berkusa dan akan bertindak sesuka hati. Berbuat kerusakan di muka bumi ini. Dengan adanya musibah manusia akan ingat bahwa bagaimana ketika uang yang banyak tidak dapat meyelamatkan kematian, badan yang kuat menjadi lemah di rempuh sakit dan tubuh yang indah menjadi rusak. Lalu ia tidak kuasa berbuat apa-apa dengan demikan hamba tersebut menjadi sadar dan  mengembalikan segala persoalannya kepada Allah.

Musibah jika dihadapi dengan benar serta rasa ikhlas ia akan mendatangkan kebaikan-kebaikan bagi orang itu. “Karena setiap kesusahan itu ada kemudahan. Setiap kesusahan itu ada kemudahan.” (Al-Insyirah: 5-6).

Tapi sebaliknya, jika ia dihadapi dengan meratap, berkeluh kesah serta menyesali dengan apa yang terjadi apalagi sampai-sampai berperasangka yang buruk terhadap Allah, menjadikaan bencana di atas bencana. Petaka yang satu belum selesai sudah ditimpa musibah yang lain. Ialah musibah kerugaian hamba tersebut dari mendapat pahala bertukar menjadi azab yang pedih.

Diterangkan oleh Imam Abu Abdullah, bunyi penggalan Hadist yang diriwayatkan dari Abu Qasim bin Askari bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Aku melihat seorang dari Umatku yang sangat kebingungan karena buku catatan amalnya selalu menuju ke sebelah kiri.  Maka rasa takutnya kepada Allah (semasa ia hidup) datang lalu menangkap buku itu dan diberikannya kepada tangan kanan. Aku milhat seorang dari umatku yang ringan timbangan amal baiknya. Maka anaknya yang meninggal datang lalu memberatkan timbangan (amal baiknya). Aku melihat seorang umatku berdiri di tepi neraka Jahannam, maka harapanya kepadanya kepada Allah datang, lalu menyelamatkannya dari situ dan diapun pergi. Aku melihat ada hambaku yang dibawa untuk dimasukkan ke dalam neraka, maka air matanya yang keluar karena takut pada Allah datang, lalu menyelamatkannya dari situ. Aku melihat ada dari umatku  sedang berdiri di atas Sirath sedangkan ia sangat tergoncang seperti goncangan benda ringgan yang tertiup angin kuat. Maka sangkaan baiknya kepada Allah datang lalau membuat tenang goncangan itu”.

Berdasarkan Hadist di atas sangkaan baik terhadap Allah merupakan ibadah yang akan mendapat ganjaran, akan menolong kesulitan kita di lain waktu. Sebab itulah hendaklah seseorang hamba tersebut tidak bersangka buruk pada Allah ketika ia tertimpah musibah. Serta terus bersabar dengan ujian-ujian yang menimpa sehingga datang suatu ketika Allah memberikan pertolongan padanya.